Pada tulisan kali ini saya terinspirasi dari wacana Pak Mentri baru untuk menggunakan pendekatan pembelajaran mendalam (Deep Learning) dan salah satu di dalamnya adalah pembelajaran bermakna (meaningful learning).
Bagi sebagian dari kita, pembelajaran bermakna beserta istilah turunannya bukan sesuatu yang baru. Sebab, konsep ini dipopulerkan oleh David Ausubel sekitar tahun 1960-an.
Apa Itu Pembelajaran Bermakna?
Pembelajaran bermakna adalah cara belajar di mana siswa tidak sekadar menghafal, tapi benar-benar memahami apa yang dipelajari dengan mengaitkannya pada pengalaman dan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Seperti yang dijelaskan David Ausubel dalam bukunya Educational Psychology: A Cognitive View (1968), pembelajaran bermakna terjadi ketika siswa dapat menghubungkan pengetahuan baru dengan apa yang sudah mereka ketahui.
Sejarah dan Perkembangan Pembelajaran Bermakna.
Pada bagian ini kita akan sedikit mengulas tentang sejarah dan perkembangan pembelajaran bermakna (mindful learning) sekilas. Anda bisa melewati bagian ini jika ingin langsung kepada intinya.
Konsep pembelajaran bermakna pertama kali diperkenalkan oleh David Ausubel pada tahun 1960-an. Dalam bukunya “The Psychology of Meaningful Verbal Learning” (1963), Ausubel menjelaskan bahwa belajar akan lebih efektif jika materi yang dipelajari masuk akal dan dapat dikaitkan dengan pengalaman siswa.
Novak dan Gowin (1984) dalam buku mereka “Learning How to Learn” mengembangkan ide Ausubel lebih lanjut dengan memperkenalkan peta konsep sebagai alat untuk pembelajaran bermakna.
Ellen Langer kemudian memperkaya konsep ini dalam bukunya “The Power of Mindful Learning” (1997) dengan menambahkan pentingnya kesadaran penuh dalam belajar.
Mengapa Pembelajaran Bermakna Penting?
Bayangkan Anda sedang memasak. Ada perbedaan besar antara sekadar mengikuti resep tanpa memahami fungsi setiap bahan, dengan memasak sambil memahami mengapa kita menambahkan setiap bahan dan bagaimana cara mengolahnya. Begitu pula dengan belajar – ada perbedaan mendasar antara menghafal dan benar-benar memahami.
Penelitian yang dilakukan oleh Mayer (2002) dalam “Rote Versus Meaningful Learning” mengungkapkan 7 manfaat penting dari pembelajaran bermakna:
1. Ingatan yang Lebih Kuat dan Tahan Lama
Ketika siswa belajar secara bermakna, informasi tidak hanya “diparkir” di memori jangka pendek, tetapi tertanam kuat dalam memori jangka panjang. Ini seperti menanam pohon – bukan sekadar meletakkan pohon di atas tanah, tapi menanamnya dengan akar yang dalam.
Misalnya, siswa yang memahami konsep fotosintesis dengan mengamati tanaman secara langsung akan lebih lama mengingatnya dibanding yang hanya menghafal definisi.
2. Kemampuan Aplikasi yang Lebih Baik
Pembelajaran bermakna memungkinkan siswa untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam situasi baru dan berbeda. Seperti seorang koki yang memahami prinsip-prinsip memasak – mereka bisa menciptakan hidangan baru, bukan hanya mengikuti resep yang ada.
Contohnya, siswa yang memahami konsep perbandingan dalam matematika akan mudah menerapkannya dalam berbagai situasi, dari membuat resep kue hingga mengatur keuangan pribadi.
3. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah
Siswa yang belajar secara bermakna mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang konsep-konsep dasar. Ini memberi mereka “alat” yang lebih baik untuk memecahkan masalah baru.
Misalnya, siswa yang benar-benar memahami prinsip-prinsip fisika akan lebih mudah memecahkan masalah teknis dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengapa sepeda mereka macet atau bagaimana cara memperbaiki mainan yang rusak.
4. Motivasi Belajar yang Lebih Tinggi
Ketika pembelajaran terasa bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata, motivasi siswa meningkat secara alami. Ini seperti bermain game – kita lebih tertarik bermain ketika memahami aturannya dan melihat kemajuan kita.
Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang melihat hubungan antara pelajaran dan kehidupan nyata lebih antusias untuk belajar dan mengeksplorasi lebih jauh.
5. Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis
Pembelajaran bermakna mendorong siswa untuk bertanya “mengapa” dan “bagaimana”, bukan hanya “apa”. Ini mengembangkan kemampuan analisis dan evaluasi yang penting untuk kehidupan modern.
Seperti yang ditemukan dalam studi Ausubel (2000), siswa yang terlibat dalam pembelajaran bermakna menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan berpikir kritis mereka.
6. Peningkatan Kreativitas
Ketika siswa benar-benar memahami suatu konsep, mereka lebih mampu bereksperimen dan menciptakan ide-ide baru.
Ini seperti memahami not musik – setelah menguasainya, seseorang bisa menciptakan komposisi mereka sendiri, bukan hanya memainkan lagu yang sudah ada.
7. Pembelajaran Seumur Hidup
Mungkin manfaat terpenting dari pembelajaran bermakna adalah kemampuannya untuk menciptakan pembelajar seumur hidup. Siswa yang terbiasa dengan pembelajaran bermakna mengembangkan rasa ingin tahu alami dan keterampilan belajar mandiri yang akan berguna sepanjang hidup mereka.
Cara Menerapkan Pembelajaran Bermakna

1. Mengaitkan dengan Kehidupan Sehari-hari
Contoh sederhana: Ketika belajar matematika, daripada hanya menghafalkan rumus, guru bisa mengajak siswa menghitung anggaran belanja atau mengukur ruangan di rumah.
2. Belajar Aktif
Alih-alih kita menggunakan pendekatan pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered), agar menjadi lebih bermakna gunakan pendekatan pembelajaran berpusat pada murid (student centered).
Salah satu aplikasi dari pendekatan ini adalah dengan pembelajaran aktif (active learning) yang setidaknya terdapat aktivitas seperti ini:
- Diskusi kelompok
- Proyek praktis
- Eksperimen sederhana
- Presentasi oleh murid
3. Refleksi dan Evaluasi
Setelah pembelajaran selesai. Tidak langsung kemudian ditutup. Namun untuk meningkatkan kebermaknaan atas apa yang telah dipelajari. Kita bisa mengajak mereka untuk menjawab pertanyaan seperti:
- Apa yang sudah dipelajari?
- Bagaimana hubungannya dengan yang sudah diketahui?
- Bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari?
Tips Praktis untuk Guru
Setidaknya ada 3 tips praktis untuk bisa teman-teman guru lakukan agar pelaksanaan pembelajaran bermakna di kelas ini menjadi efektif dan menyenangkan yaitu:
- Mulai pembelajaran dengan pertanyaan yang membangkitkan rasa ingin tahu murid
- Selalu gunakan contoh dari kehidupan nyata, atau hubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata (lebih-lebih kehidupan mereka sehari-hari)
- Berikan kesempatan mereka di kelas untuk:
- Bertanya
- Berdiskusi
- Mencoba
- Membuat kesimpulan sendiri
Kesimpulan
Pembelajaran bermakna bukan sekadar teori pendidikan, tapi cara praktis untuk membuat belajar lebih efektif dan menyenangkan.
Meskipun ini bukan teori baru, namun pada praktiknya tidak semua guru dan pendidik melakukan pembelajaran bermakna ini dengan optimal.
Kita (guru) perlu berlatih menggunakan pembelajaran bermakna ini menjadi sebuah pendekatan yang dibiasakan di kelas. Metode dan model pembelajaran bisa divariasikan sesuai dengan karakteristik murid yang ada di kelas kita.
Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa tidak ada pembelajaran dan kelas yang sempurna, namun kita lah yang memandu mereka menemukan berbagai pengalaman belajar yang menyempurnakan mereka (murid-murid).
Selamat mencoba dan mari kita diskusikan apa yan terjadi di kelas anda setelah mencoba pendekatan pembelajaran bermakna.
Referensi
- Ausubel, D. P. (1968). Educational Psychology: A Cognitive View. New York: Holt, Rinehart & Winston.
- Ausubel, D. P. (1963). The Psychology of Meaningful Verbal Learning. New York: Grune & Stratton.
- Novak, J. D., & Gowin, D. B. (1984). Learning How to Learn. Cambridge University Press.
- Langer, E. J. (1997). The Power of Mindful Learning. Reading, MA: Addison-Wesley.
- Mayer, R. E. (2002). Rote Versus Meaningful Learning. Theory Into Practice, 41(4), 226-232.
- Ausubel, D. P. (2000). The Acquisition and Retention of Knowledge: A Cognitive View. Springer Science & Business Media.





