Sejarah Pembelajaran Berdiferensiasi

Artikel ini akan mengulas tentang sejarah pembelajaran berdiferensiasi dari sudut pandang sejarah. Memahami sejarah tentang pembelajaran berdiferensiasi akan membuat anda lebih memahami tentang apa yang menjadi latar belakang munculnya konsep ini serta peluang pengembangannya.

Pembelajaran berdiferensiasi menjadi perbincangan menarik meskipun bukan merupakan konsep baru. Hal ini terjadi karena dalam Kurikulum Merdeka yang dikembangkan oleh teman-teman di Kemendibud menjadikan pembelajaran berdiferensiasi menjadi ‘ruh’ dari proses belajar mengajar di kelas.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya belajar setiap siswa. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua siswa dapat belajar dan berkembang secara optimal.

Awal Sejarah Pembelajaran Berdiferensiasi

Pemikiran mengenai pembelajaran berdiferensiasi sudah muncul sejak lama, yaitu pada abad ke-19. Pada saat itu, para ahli pendidikan mulai menyadari bahwa setiap siswa memiliki potensi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa.

Salah satu tokoh yang berperan dalam perkembangan awal pembelajaran berdiferensiasi adalah John Dewey. Dewey berpendapat bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa, dan guru harus memahami kebutuhan dan minat siswa.

Pembentukan Konsep Pembelajaran Berdiferensiasi

Pada abad ke-20, konsep pembelajaran berdiferensiasi mulai terbentuk. Pada tahun 1969, Benjamin Bloom menerbitkan sebuah buku berjudul Taxonomy of Educational Objectives, yang membahas tentang perbedaan kemampuan siswa. Bloom berpendapat bahwa pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa.

Pada tahun 1990-an, Carol Tomlinson mengembangkan sembilan prinsip pembelajaran berdiferensiasi. Tomlinson berpendapat bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat diterapkan dengan berbagai cara, sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar masing-masing siswa.

Perkembangan Pembelajaran Berdiferensiasi Saat Ini

Pembelajaran berdiferensiasi telah menjadi salah satu pendekatan pembelajaran yang populer di dunia pendidikan. Pendekatan ini telah diterapkan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Mengapa demikian? Setidaknya ada 3 penyebab mengapa konsep pembelajaran berdiferensiasi perlu menjadi perlu dicoba oleh para pendidik, diataranya adalah sebagai berikut:

Keragaman Siswa

Siswa di kelas modern memiliki keragaman yang tinggi, baik dari segi kemampuan akademik, gaya belajar, minat, dan latar belakang. Keragaman ini dapat menjadi tantangan bagi guru, karena dapat membuat pembelajaran menjadi lebih sulit untuk disesuaikan dengan kebutuhan semua siswa.

Pembelajaran berdiferensiasi dapat membantu guru untuk memenuhi kebutuhan semua siswa, terlepas dari perbedaan mereka. Pendekatan ini didasarkan pada pemahaman bahwa setiap siswa memiliki potensi yang berbeda-beda, dan pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya belajar masing-masing siswa.

Pendekatan Efektif

Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan hasil belajar, motivasi belajar, dan partisipasi siswa.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Educational Psychologist menemukan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 15%. Studi lain yang diterbitkan dalam jurnal Teaching and Teacher Education menemukan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sebesar 20%.

Pendekatan yang Fleksibel

Pembelajaran berdiferensiasi dapat diterapkan di berbagai konteks pendidikan, mulai dari pendidikan formal hingga pendidikan nonformal. Pendekatan ini dapat diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan siswa dari berbagai tingkat usia, kemampuan, dan latar belakang.

Pembelajaran berdiferensiasi dapat diterapkan di kelas dengan cara memberikan pilihan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan produk pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya belajar siswa. Pembelajaran berdiferensiasi juga dapat diterapkan dalam pembelajaran online dengan cara menyediakan berbagai sumber daya dan aktivitas yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Nah, bagaimana menurut anda? Sejarah pembelajaran berdiferensiasi yang cukup panjang dan lama apakah masih relevan dengan pembelajaran di kelas anda?

Referensi

Tomlinson, C. A. (2019). Differentiation in practice: A resource guide for teachers (3rd ed.). Alexandria, VA: ASCD.

Tomlinson, C. A., & McTighe, J. (2006). Differentiated instruction: Making it work (2nd ed.). Alexandria, VA: ASCD.

Tomlinson, C. A. (2001). The differentiated classroom: Responding to the needs of all learners (2nd ed.). Alexandria, VA: ASCD.

Berlangganan Artikel

Dapatkan info terbaru dan terupdate tentang inovasi dalam pembelajaran & manajemen kepemimpinan sekolah melalui email anda dengan klik tombol berikut GRATIS.

Agenda Terdekat

About The Author

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top

ChatGPT Mastery

Tingkatkan Produktivitas 10x Lebih Baik dengan Panduan ini!