Mengapa Pembelajaran Berdiferensiasi berkaitan dengan Kurikulum Merdeka?

Anda mungkin juga memiliki pertanyaan serupa seperti judul di atas. Jika kita perhatikan memang dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran berdiferensiasi memiliki peranan yang penting. Seperti aktris atau aktor utama sebuah film, diantara aktor lain seperti CP, Modul Ajar & P5.

Sebuah asumsi terlintas pertama kali saat mendengar hal ini disebut dalam kurikulum merdeka.

Sebelum saya mempelajari lebih dalam tentang kurikulum merdeka, saya berasumsi jika dalam kurikulum merdeka ini mengedepankan “kemerdekaan” dalam belajar.

Tentu, tidak akan bisa “merdeka” jika dalam prosesnya justru membelenggu. Menyamaratakan peserta didik dalam satu kelas. Bukankah begitu?

Tetapi ini asumsi yang terlintas. Perlu diverifikasi dan dikaji lebih lanjut apakah asumsi ini berdasar dan bisa dipertanggung jawabkan ataukah perlu mendapatkan penguatan di beberapa sisi.

Setelah mempelajari kurikulum merdeka lebih dalam, saya menemukan setidaknya ada 2 alasan dan sebab pembelajaran berdiferensiasi dijadikan salah satu ‘aktor’ penting, yaitu:

1. Mendukung Profil Pelajar Pancasila

Kurikulum Merdeka bertujuan untuk mengembangkan profil pelajar Pancasila. Profil pelajar Pancasila adalah seperangkat karakter yang diharapkan dimiliki oleh setiap siswa Indonesia. Salah satu profil pelajar Pancasila adalah gotong royong.

Pembelajaran berdiferensiasi dapat mendukung pengembangan profil pelajar Pancasila gotong royong dengan cara:

  • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan siswa lain yang memiliki kemampuan berbeda
  • Mengembangkan rasa empati dan pemahaman siswa terhadap siswa lain
  • Mengajari siswa untuk menghargai perbedaan

2. Sesuai dengan Karakteristik Peserta Didik

Peserta didik sekarang identik dengan gadget dan perkembangan teknologi yang luar biasa. Kemudahan akses informasi membuat peserta didik memiliki karakteristik yang semakin unik.

Jika dulu, kita melihat peserta didik mayoritas homogen. Sekarang, tampak begitu heterogen. Meskipun tidak dipungkiri sebenarnya dari dulu, peserta didik adalah individu yang memiliki karakteristik masing-masing.

Konsekuensinya, pilihan, kesukaan, atau kita menyebutnya gaya belajar setiap anak berbeda dan unik.

Belum lagi ditambah dengan pola asuh, budaya, kecenderungan serta lingkaran terdekat mereka membentuk pribadi dan gaya berpikir yang berbeda-beda pula.

Kita sebagai pendidik, mestinya menyadari betul bahwa setiap peserta didik ini unik dengan segala keunikannya.

Mereka memiliki kecepatan belajar, motivasi, daya juang, dan kompetensi dasar yang boleh jadi berbeda-beda.

Konsep pembelajaran berdiferensiasi ini memungkinkan kita mengakomodasi keunikan tersebut dan membantu mereka (peserta didik) bisa menemukan keasikan dalam proses belajar.

Sebab, mereka merasa belajar adalah hal yang “gue banget”, relevan dan sesuai dengan ‘gaya’ mereka.

Bukan lagi penyamarataan 1 metode atau gaya mengajar untuk semua peserta didik.

Lalu, bagaimana teknis dan detilnya pembelajaran berdiferensiasi ini terlaksana di kelas?

Saya bersama Teh Rani Indriani akan mengupasnya di Webinar Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi yang akan dilaksanakan 5 November 2023.

Informasi lengkap bisa anda pelajari di tombol berikut:

Berlangganan Artikel

Dapatkan info terbaru dan terupdate tentang inovasi dalam pembelajaran & manajemen kepemimpinan sekolah melalui email anda dengan klik tombol berikut GRATIS.

Agenda Terdekat

About The Author

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top

ChatGPT Mastery

Tingkatkan Produktivitas 10x Lebih Baik dengan Panduan ini!